Mengapa Kekhusyukan Shalat Sulit Diraih?

Kekhusyukan dalam shalat nampaknya menjadi suatu hal yang sulit diraih umat sekarang. Khusyuk tak lagi menjadi pemandangan lazim layaknya shalat yang ditunjukkan oleh kalangan salaf.

Bahkan, mereka menegaskan bahwa kekhusyukan termasuk perkara yang pertama kali hilang dan dicabut dari umat, selain ilmu. Umat masa kini cenderung terperangah dengan persoalan duniawi. Kesibukan mengurus urusan materi mengalihkan konsentrasi memperoleh khusyuk di shalat yang mereka kerjakan tiap harinya.

Menurut al-Hafidz Ibn Rajab al-Hanbali (795 H) dalam kitab al-Khusyuk fi as-Shalat, yang menguak rahasia dan makna di balik kekhusyukan shalat, ketenangan jiwa tatkala menjalankan shalat lebih dikenal dengan istilah khusyuk. Shalat pada dasarnya tak sekadar ritual dan rutinitas yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Lebih dari itu, shalat adalah ikhtiar seorang hamba untuk menundukkan seluruh raganya.

Syadad bin Aus pernah mengatakan bahwasanya khusyuk termasuk perkara yang pertama kali akan sirna dari umat Islam. Sehingga, seandainya seseorang terlihat khusyuk maka pada hakikatnya tidak seperti itu. Kekhusyukan tersebut bukan kekhusyukan yang sebenarnya.

Abu ad-Darda’ pernah menekankan hal yang sama. Menurutnya, ilmu yang pertama kali dihilangkan dari umat adalah ilmu khusyuk. Akibat hilangnya khusyuk tersebut, nyaris saja tidak ditemukan orang shalat khusyuk di tiap masjid.

Menurut Ibnu Rajab, fenomena di atas bisa diakibatkan oleh berbagai faktor. Di antara faktor yang cukup memengaruhi adalah problematika internal umat. Misalnya, munculnya konflik antaraliran Islam dengan tingkat dan intensitas tinggi. Dulu, konflik tersebut pernah terjadi pascaterbunuhnya Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib RA.

Ummu Salamah mengisahkan tentang tragedi pembunuhan yang terjadi di tengah-tengah umat dan dampaknya terhadap kekhusyukan shalat. Berdasarkan kisahnya tersebut, dulu tatkala Rasulullah masih hidup, pandangan jamaah tak berpindah dari tempat di mana kedua kaki mereka berpijak. Rasulullah meninggal dunia, pandangan tersebut bergeser hingga setinggi kening.

Saat Umar bin Khattab wafat, pandangan itu berpindah lagi hingga mengarah ke arah tempat kiblat. Hingga pascakematian Ustman bin Affan, penglihatan itu tak lagi fokus pada satu tempat. Mereka kerap menengok ke kanan dan ke kiri sewaktu shalat. Gambaran itu mengisahkan dampak tragedi dan problematika hidup pada kekhusyukan shalat.

Secara khusus, Ibnu Rajab menguraikan tema demi tema dalam kitabnya itu untuk menjelaskan tentang perkara yang berkaitan dengan shalat dan khusyuk. Khusyuk diartikan sebagai bentuk kelembutan hati tercermin pada tiap tindakannya. Hati ada poros utama bagi keseluruhan jasad seseorang. Tatkala hati bersih maka luruslah segala tindakan. Begitu juga sebaliknya, hati yang dikotori dengan tindakan nista dan dosa, hati jelek akan menjerumuskannya kepada perbuatan hina. Ketika hati rusak maka rusaklah anggota jasad lainnya.

Makna khusyuk inilah yang digunakan oleh Rasulullah dalam ucapan saat melakukan rukuk. Rasulullah membaca doa ketika rukuk yang artinya pendengaran, penglihatan, otak, dan tulang belulangku tunduk kepadamu.

Ketika itu, Sa’id bin al-Musayyib melihat seseorang menggerak-gerakkan tangannya sewaktu shalat. Gerakan tangannya itu tanpa dimaksudkan untuk perkara yang penting dan mendesak. Said pun lantas mengatakan bahwa seandainya hati orang tersebut khusyuk maka seluruh anggota tubuhnya akan khusyuk, termasuk tangan yang ia gerak-gerakkan tanpa faedah.

Ali bin Abi Thalib mengemukakan pandangannya tengan khusyuk. Pendapatnya itu disampaikan mengomentari surah al-Mukminun ayat 2, yaitu: Orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya.   Menurutnya, yang dimaksud dengan khusyuk adalah ketenangan yang berada dalam hati.

Khusyuk itu akan menghindarkan seseorang dari perbuatan mengganggu orang yang shalat di sampingnya. Khusyuk juga bisa terlihat karena yang bersangkutan tak akan mengalihkan pandangannya dan tak akan menoleh ke arah mana pun selain ke tempat sujudnya. Oleh Ibnu Abbas, khusyuk yang dimaksud ayat tersebut diartikan sebagai sikap takut dan rasa ketenangan yang diperoleh seseorang ketika shalat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s