Cara Nabi Ayub Hadapi Ujian

Sejumlah ulama menyatakan, ia dinamakan Ayyub karena kesabarannya dalam menghadapi musibah dan bencana. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menjelaskan, kesabaran Nabi Ayyub dalam menghadapi semua ujian itu menjadikan dirinya sebagai seorang hamba yang saleh dan menjadi teladan dalam kesabaran yang harus diikuti oleh kaum Muslim, terutama bagi orang-orang yang tertimpa musibah.

Ayyub mengadukan ujian dari setan yang ingin menyesatkannya. Ia berkata, ”Sesungguhnya, aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS Shad [38]: 41).

Kepayahan di sini karena setan tak henti-hentinya menggoda, padahal ia sudah dalam keadaan lemah karena sakit. Setan selalu menggoda kesabarannya dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Menurut sejumlah ulama, sakit yang dialaminya berlangsung selama 18 tahun.

Maka, Allah pun menolongnya. Melepaskan semua belenggu yang dideritanya. Kekayaannya dikembalikan, anak-anaknya dihidupkan, dan istrinya kembali ke pangkuannya. Kisah selengkapnya dapat dilihat dalam surah Shad [38]: 41-44 dan Al-Anbiyaa` [21]: 83-84).

Selain kesabarannya, ada kisah menarik lainnya yang bisa dijadikan pelajaran dari Nabi Ayyub AS. Saat ia menderita sakit dan ditinggalkan oleh istrinya karena tak sanggup merawatnya, Nabi Ayyub AS bersumpah akan memukul istrinya itu sebanyak 100 kali pukulan.

Saat istrinya kembali ke pangkuannya, Nabi Ayyub bermaksud melaksanakan sumpahnya dengan 100 kali pukulan. Namun, Allah SWT memberikan solusi yang lebih baik. Ayyub diperintahkan untuk mengambil seikat rumput yang berjumlah 100 buah lalu diikat menjadi satu. Dan, ia cukup memukul istrinya dengan sekali pukulan saja dengan menggunakan seikat rumput yang berjumlah 100 buah. Riwayat lain menyebutkan seikat lidi yang berjumlah 100 buah.

”Dan, ambillah dengan tanganmu seikat (rumput) maka pukullah dengan itu dan jangan melanggar sumpah.” (QS Shad [38]: 44).

Menurut pendapat mayoritas, istri Nabi Ayyub yang meninggalkannya itu bernama Rahmah binti Afraim seperti yang disebutkan Sami al-Maghluts, Ibnu Katsir, dan beberapa ulama lainnya. Ada pula yang mengatakan Layya binti Minsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s